Apakah ini sebenarnya atau semu? Luka tetaplah luka. Tak peduli
seberapa lemah menampar kalam batin.
Akan ku simpan aroma luka ini dalam bejana yang ku tutup
rapat-rapat. Biarlah jadi luka sunyi dan kunikmati keheningannya sampai hilang
tak tersisa.
Beringsut juga, pilihannya. Mengejar semu di bawah hujan.
Seharusnya malam ini biru. Tapi kenapa justru mengelabu?
Biarkan luka itu mengalir, berkelok dan menyimpan keteduhannya.
Keteduhan yang melelapkan lalu tiada.
Mungkin lebih baik dengan melenyapkannya. Saling membenci dengan
mengingkari nurani kita.
Biarlah luka itu hilang dalam kesenyapan masa dengan sendirinya.
Seperti harapan itu dulunya tidak ada.
Malam ini juga, aku ingin membersihkannya dan membakarnya serupa
debu.
Aku akan berdiri di jalanku. Mengundurkan diri sebagai tiang dan
jembatan tanpa sebab.