Minggu, 30 Desember 2012

Desember


Desember, membingkai lagi kenangan biru , satu demi satu. Tentangmu  siapa lagi.
Desember, meratapi detik yang terlewati. Bersamamu terpatri jejak kebahagiaan. Membumi tak terperi.
Desember, bersama kesendirian di senja yang sayu. Berbekal cerita tentang masa lalu yang setia jadi sahabat sejati. Semoga kamu mengingatnya.
Desember, senja itu tak kelabu. Justru memanen pelangi dari teduh matamu.

Jumat, 23 November 2012

Luka


Apakah ini sebenarnya atau semu? Luka tetaplah luka. Tak peduli seberapa lemah menampar kalam batin.

Akan ku simpan aroma luka ini dalam bejana yang ku tutup rapat-rapat. Biarlah jadi luka sunyi dan kunikmati keheningannya sampai hilang tak tersisa.

Beringsut juga, pilihannya. Mengejar semu di bawah hujan. Seharusnya malam ini biru. Tapi kenapa justru mengelabu?

Biarkan luka itu mengalir, berkelok dan menyimpan keteduhannya. Keteduhan yang melelapkan lalu tiada.

Mungkin lebih baik dengan melenyapkannya. Saling membenci dengan mengingkari nurani kita.

Biarlah luka itu hilang dalam kesenyapan masa dengan sendirinya. Seperti harapan itu dulunya tidak ada.

Malam ini juga, aku ingin membersihkannya dan membakarnya serupa debu.

Aku akan berdiri di jalanku. Mengundurkan diri sebagai tiang dan jembatan tanpa sebab.

Kamis, 15 November 2012

Goodbye


Kamu adalah sebuah paragraf yang tak akan pernah selesai. Lalu, kenapa aku masih berusaha untuk menyelesaikannya?

Kamu adalah pertanyaan yang tak akan terjawab. Tapi, kenapa sampai saat ini aku masih berusaha mencari jawaban atas semua ini?

Kamu adalah objek di setiap baris paragraf. Namun, di baris keberapa kamu ingin mengejaku sebagai subjek yang kamu garis bawahi dengan kata cinta?

Kamu adalah seuntai kata bermakna yang tak pernah dimengerti. Dan aku  akan selalu terjaga demi sepotong kata tanya untuk hati.

Haruskah  aku mengakhiri paragraf tanda tanya ini? Meskipun belum sampai bab terakhir? Bahkan sampai saat ini kamu masih berupa abjad sunyi untuk hati yang tak  menemui abjad jawabannya.

Ini saatnya menutup buku. Kita, tak akan ada cerita lagi. Cukup sampai disini! Sekian dan Selamat Tinggal..

Rain Over Me


Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau.

Namun ketika dia hadir dalam hidupmu diantara kita, aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggengam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya.

Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang aku nikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu. 

Dalam Hujan Aku Menari


Hujan
Kepadamu ingin kuperdengarkan rintihan rintik iramanya
Lirih melumat kesendirianku dalam diam
Hujan
Dalam magis lirih rintiknya
Yang menorehkan bahagia juga luka bersama
Tawa bahagia dan sedu -sedan tangis meramu satu
Dalam hujan itu
Tersimpan jejakmu
Lewat riuh rintiknya aku mengadu dan mengaduh pilu
Kepada hujan
Tolong  jangan hasut petir datang
Biarkan dia menari dalam  rintikmu dengan senyuman
Hujan
Tanya dan tanda apa yang harus ku alamatkan
Selain derasmu selebihnya adalah rindu yang bungkam seribu
Hujan
Rangkul aku, basah
Mungkin dingin bisa usir gerah gelisahku berganti sejuk matamu
Saatnya menari dalam hujan
Menggantungkan harapan semu
Membawa bahagia tanpa rekayasa
Meniupkan kegelisahan sekuat halilintar
Berpayung dalam hujan
Air mata bahagiaku seperti gerimis
Walaupun tidak sederas hujan
Kucatat lagi sejarah kesendirian di kaki langit yang berhujan
Hari ini hanya ada tanya hati dan sepi
Cukup untuk hari ini
Bertema hujan, kesendirian dan sepotong mimpi


Goodbye Happiness


Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah. Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya. Jangan menyangkalnya karena akan sia-sia. Sama seperti berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah kita sesungguhnya hanya akan menuai luka.
Kau dan aku seperti tengah mencoba untuk membirukan senja yang selalu merah. kita sama-sama berusaha, tetapi tidak bisa mengubah apa-apa. Maka, berhenti dan renungkanlah ini semua sejenak. Tidak ada gunanya memaksa. Ini hanya akan membuatmu tersiksa dan aku menderita.

Lantas kenapa kita tidak mmenyerah saja?
Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas?
Akhir bahagia itu bukan milik kita...